Meski Islam dan umatnya kerap dilecehkan dan mendapat terror di berbgai tempat, namun cahaya kebenaran tidak pernah redup. Di Jerman, sebuah sensus menyebutkan bahwa Islam menyebar pesat.

Di jantung kota Jerman, orang berbondong-bondong masuk Islam setiap tahunnya. Hal ini memunculkan rasa khawatir sebagian orang bila Eropa dalam beberapa tahun ke depan berubah menjadi benua yang didominasi oleh kaum Muslimin.

Menurut Laporan Lembaga Statistik Khusus umat Islam di Jerman, jumlah orang yang masuk Islam di Jerman bertambah dari tahun ke tahun. Pada tahun 2006, jumlah mereka yang menyatakan diri masuk Islam sekitar 4.000-an orang, sementara di tahun 2005, hanya sekitar 1.000 orang saja. Menurut Direktur Lembaga, Salim Abdullah, “Sedikitnya ada 18.000-an orang Jerman yang tercatat sudah masuk Islam.” (watch Many German Women Turning to Islam )

Dalam penghitungan yang dilakukan lembaganya, di kota Sost Jerman, terdapat 1.240-an Muslim asli Jerman dari total 732 ribu orang Muslim dari berbagai latar belakang. “Kebanyakan para pemeluk Islam baru itu adalah kaum perempuan yang telah menetapkan diri masuk Islam, baik karena keyakinannya pribadi atau karena pernikahannya dengan sang suami yang beragama Islam, ujar Salim.

“Ini bukan hal yang aneh, karena umumnya kaum Muslimah Jerman juga orang-orang terpelajar yang memiliki predikat ilmiah cukup tinggi dari berbagai lembaga pendidikan, ” ujar Salim.

Dalam sebuah penelitian, disebutkan bahwa 250 hingga 300 orang perempuan Jerman memeluk Islam setiap tahunnya. (na-str/islmtm/eramuslim)

Aisyah Bhutta (34), dulu, ia bernama Debbie Rogers. Kini hidup tenteram dan bahagia setelah memeluk Islam. Di apartemennya yang terletak di Cowcaddens, Glasgow, ia melewati hari-hari dengan amalan Islam. Rumahnya pun telah dihiasi dengan nuansa Islam. Di dinding tergantung kaligrafi Al-Quran. Ada juga poster bergambar kota suci Mekkah. Lalu jam yang disetel khusus dengan suara azan yang senantiasa mengingatkan Aisyah dan keluarganya tiap masuk waktu shalat. Wajahnya kini terbungkus rapi oleh jilbab yang makin menunjukkan kesalehannya. Dia sangat gigih dalam berdakwah. Tidak saja untuk keluarganya dan kerabat bahkan tetangga-tetangga juga tak luput dari dakwahnya. Alhasil, dia dapat mengislamkan orangtua, kerabat dan 30 temannya. Berikut kisahnya seperti dilansir dari Islamweb.com.

Bagi seorang gadis Kristen taat seperti Debbie Rogers, masuk Islam lalu menikah dengan pria Muslim, adalah suatu hal yang luar biasa. Tak hanya itu, ia juga telah mengislamkan kedua orantuanya, beberapa orang saudaranya. Dan yang menakjubkan ia telah mengajak sedikitnya 30 orang teman dan tetangganya masuk Islam!

Debbie Rogers dulunya berasal dari keluarga Kristen yang taat. Mereka aktif dalam aneka kegiatan gereja. Kala remaja lainnya asyik dengan idola mereka, misalnya mengoleksi poster penyanyi kesayangan mereka, katakanlah seperti penyanyi terkenal George Michael atau asyik dengan hura-hura sepanjang malam. Maka Debbie Rogers justru sebaliknya. Di dinding kamarnya penuh dengan poster Yesus. Musiknya adalah musik bernuansa rohani, bernada puji-pujian bagi Yesus. Itulah aktifitasnya sebelum kenal Islam.

Tapi akhirnya dia “lelah” sendiri. Ia merasa tak mendapatkan apa-apa dari apa yang dipelajarinya. Bahkan banyak sekali daftar pertanyaan tentang paham Kristen yang tak berjawab. Debbie Rogers kemudian berkenalan dengan seorang pria keturunan Pakistan, Muhammad Bhutta namanya. Pria yang mengenalkan Islam padanya dan dikemudian hari menjadi suaminya. Tapi jangan dikira ia masuk Islam gara-gara jatuh cinta dengan Nabi Muhammad SAW
lanjutan ceritanya masih panjang: Klik sini yo

Liputan6.com, Salatiga: Ribuan umat Islam Kota Salatiga, Jawa Tengah, berunjuk rasa di rumah dinas wali kota, Ahad (2/3) pagi. Gerakan yang didahului dengan tabligh akbar di Masjid Al-Atiq, Kauman ini berniat memperjuangkan hak penggunaan tanah seluas 50 hektare di kawasan Argo Mulyo. Polisi bersikeras menghalangi pengunjuk rasa memasuki halaman rumah dinas wali kota. Akhirnya hanya lima ulama dan beberapa wakil organisasi yang diizinkan menemui Wali Kota John Manopo.

Dalam tuntutannya, massa mendesak wali kota segera menyerahkan hak guna usaha tanah Argo Mulyo kepada umat muslim dan membangun pusat kegiatan Islam seperti yang dijanjikan wali kota sebelumnya Totok Mintarto. Sementara wali kota saat ini dinilai akan menggagalkan rencana tersebut. Melihat tuntutan massa, John Manopo berjanji akan memenuhinya dan massa kemudian membubarkan diri.(ADO/Teguh Hadi Prayitno dan Kukuh Ary Wibowo)

SALATIGA (Suara Karya): Sedikitnya 5.000 santri dari berbagai komponen organisasi Islam di Salatiga “menyerbu” rumah dinas (rumdin) Wali Kota John Manuel Manoppo SH, Minggu (2/3) siang.

Wali kota dinilai telah mengombang-ambingkan umat Muslim yang sejak 2004 silam mengajukan permohonan pengelolaan terhadap sebagian tanah di kawasan Desa Kumpulrejo, Kecamatan Argomulyo, yang selama 50 tahun (2 periode) sejak tahun 1947 hingga 31 Desember 2007 dikuasai oleh PT Rumekso Mekaring Sabdo (RMS).

Sebagaimana dipaparkan dalam siara pers mereka, pada 10 September 2007 Wali Kota merekomendasi hak pakai 50 hektare untuk Islamic Centre. Berikutnya Wali Kota mengeluarkan rekomendasi ke-2 kepada Yayasan Universitas Islam Salatiga (YUIS) untuk mendapatkan hak pakai tanah eks PT RMS. Tapi ironisnya, Badan Pertanahan Nasional (BPN) Jateng mengeluarkan perpanjangan HGU kepada PT RMS pada 10 Oktober 2007, sebelum rekomendasi ke-2 keluar.

“Nyata-nyata bahwa Wali Kota terkesan tidak serius, bahkan main-main,” kata Tomo dari Angkatan Muda Umat Islam Salatiga (UIS).

Acara yang dikoordinasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Salatiga tersebut melibatkan berbagai elemen masyarakat, seperti Jaringan Remaja Mesjid Indonesia (JRMI) Kota Salatiga, HMI, KAMMI, PMII, Pemuda Ansor, Pemuda Muhammadiyah, serta UIS. Sebelum berjalan menuju rumah dinas, ribuan peserta aksi terlebih dahulu menggelar pengajian akbar di halaman Mesjid Al-Atiq Kauman, Jalan KH Wahid Hasyim.

Sementara itu, KH Iskandar Abdurrahman SAg MSi dalam orasinya menyebutkan, MUI Salatiga meminta Wali Kota tidak memicu konflik dan sentimen keagamaan di kalangan masyarakat dengan bersikap ambigu dan tidak konsisten terhadap keputusan-keputusan yang telah dikeluarkan.

Menanggapi aksi demo itu, Wali Kota John Manoppo menyatakan akan mengupayakan untuk merealisasikan tuntutan tersebut. “Kami baru bisa menampung aspisrasi. Kita akan upayakan untuk memenuhinya,” ujar John.

Dia juga menyampaikan permintaan maafnya bila ada kebijakannya yang menyakiti hati umat Islam. Dia mengaku tak ada sedikit pun niat untuk menyakiti atau mendiskreditkan kelompok-kelompok tertentu. (Khamim)
Sumberipun: http://www.suarakarya-online.com/
Solopos.com

SALATIGA(SINDO) – Proyek Jalan Lingkar Selatan (JLS) Salatiga yang kini tengah dikerjakan bakal melintasi sebagian lahan di Tanah Salib Putih.

Sekitar 10.800 meter lahan di komplek perkebunan yang terletak di Kec Argomulyo itu harus direlakan untuk JLS. Padahal, saat ini tanah tersebut masih menjadi polemik sosial terkait pengajuan pengelolaan oleh Yayasan Universitas Islam Salatiga (YUIS) kepada pemegang Hak Guna Usaha (HGU) tanah Salib Putih PT Rumeksa Mekaring Sabda (RMS).

Wali Kota Salatiga John Manuel Manoppo didampingi Kabag Pemerintahan Kusumo Aji membenarkan rencana pengurangan tanah Salib Putih untuk jalan lingkar selatan.Dari gambar yang ada,tanah tersebut akan dilewati JLS di bagian timur berada di kanan dan kiri.

Menurut John,Pemkot Salatiga segera mengajukan ijin penggunaan tanah Salib Putih yang kini HGU dipegang PT Rumeksa Mekaring Sabda (RMS).“Kami segera mengirim surat resmi penggunaan tanah Salib Putih untuk kepentingan jalan umum baik ke PT RMS maupun ke pemerintah pusat termasuk Departemen Pertanian dan Perkebunan,”kata Walikota di Salatiga, kemarin.

Proses pengerjaan JLS saat ini memasuki tahap pembebasan tanah warga yang terletak di Kel Kecandran, Kec Sidomukti. Sejumlah bidang tanah milik warga di wilayah ini yang terkena jalur JLS sudah dipatoki mulai Senin (28/1) lalu. ”Pelaksanaan pematokan batas tanah warga yang dibebaskan akan selesai 7 hari,” imbuh Kabag Tata Pemerintahan Setda Salatiga Kusumo Aji.

Alokasi anggaran pembebasan tanah warga yang terkena jalan lingkar selatan (JLS) tahun 2008 sebesar Rp11,1 miliar. Sedangkan anggaran proyek jalan tersebut senilai Rp49,5 miliar bantuan dari APBN.Pada tahun ini, tahap pembangunan jalan lingkar sepanjang 7 kilometer itu juga akan memasuki tahap pembuatan detail engineering design(DED) di Bappeda Kota Salatiga.

Anggaran Rp11 miliar itu bakal digunakan untuk pem-bebasan tanah dengan target di Kel Dukuh sampai Kel Kecandran, Kec Sidomukti yang memiliki panjang jalur 1,95 kilometer dan 1,6 kilometer. Dari rapat tim pembebasan tanah warga, untuk harga ganti untung nilainya tetap yakni sebesar Rp80 ribu per meter.

Meski demikian dapat saja terjadi kemungkinan naiknya harga tanah dibandingkan tahun sebelumnya.”Kami berupaya agar ganti untung tetap pada harga Rp 80 ribu per meter,” tegas Kusuma Aji. (sundoyo hardi)

Saya terlahir dari keluarga Nasrani. Ayah saya yang tadinya muslim pun menjadi nasrani ketika menikah dengan seorang wanita kristen ibu saya. Keluarga saya termasuk kristen militan yang menuntut anak-anaknya untuk turut dalam misi penginjilan. Misi yang pertama dilakukan saat kita pindah di Lombok, itu sekitar tahun 1997.

Hidup itu tiada henti bertanya akan segala sesuatu. Tapi dalam Kristen, ketika benak penuh pertanyaan hal janggal, tak satupun terjawab kecuali dengan jawaban, “Ya” lalu kemudian “Amen”, kemudian “Amen” dan “Amen”.

Saya mengalaminya pertama kali saat saya SMP. Pada saat itu, hati kecil saya bertanya-tanya dan mulut saya pun melontarkannya. “Yesus itu Tuhan, kan? Sedangkan Tuhan itu Maha Segalanya, tapi kenapa mata manusia mampu menangkapnya?”, tanya saya ke guru di sekolah Katolik tempat saya belajar.

Pertanyaan-pertanyaan tak berhenti begitu saja. Saya juga menanyakan tentang kenapa Yesus muncul dalam berbagai versi dan wajah. Ada versi yang berwajah Barat, Nigeria, Indonesia bahkan India. Tapi tetap saja tak ada jawaban yang memuaskan. Bahkan bisa dibilang tak pernah ada jawaban.

Sementara, hati kecil tetap tak mau berhenti berontak. Hingga saya menginjak dewasa, saya tetap tak bisa memasukkan dalam kotak nalar benak saya, tentang apa yang namanya misi penginjilan yang mengajak orang-orang beragama di luar Kristen agar masuk Kristen. Bahkan, saya pernah menolak untuk jadi penginjil. Di dalam Kristen, ada ajaran, “Jadilah kau pengail orang, kalau turutku (Tuhan Yesus)”. Saya lalu berdalih, bukan menentang ajaran ini, tapi menentang tafsiran bahwa mengailnya juga di kolam yang sudah terbentuk sementara lautan luas masih belum tunduk. Debat saya akan verse ini pun sia-sia. Saya masih harus tetap menjalankan ini semua mengkristenkan orang yang sudah beragama. Menjadi misionaris.

Saat hati bergejolak penuh pertanyaan, saat itu juga hati kagum dengan ketaatan orang-orang Islam yang berbondong-bondong ke masjid ketika ada panggilan Adzan. Ketika kita terlelap dalam tidur, mereka sudah bangun untuk mendirikan shalat menemui Tuhannya. Kemudian saya mulai bertanya-tanya tentang apa itu Tuhan?, Apa itu roh kudus?.

Masalah Trinitas pun tak luput saya tanyakan kepada seorang pendeta. Bahwa 3 dalam satu itu tidak mungkin. Bahwa sangat aneh ketika Tuhan menjelma dalam bentuk manusia, tapi masih ada lagi Tuhan di atas sana. Ini sama halnya ada 3 Tuhan. Meskipun Pendeta itu mengajariku beranalog bahwa Trinitas itu seperti menggambarkan seorang ayah. Bisa jadi, ayah itu adalah seorang ayah, seorang pekerja kantoran sekaligus ketua RT. Jika seorang ayah berada di tempat dan waktu yang berbeda maka ia akan menjadi orang yang berbeda. Padahal Tuhan tidak terikat waktu dan tempat. Itu semua tidak masuk akal, bentakku pada diri sendiri. “Kamu memang keras kepala!”, kata orang tua saya ketika saya mulai berdalih macam-macam tentang Trinitas. Sejak saat itu pula saya merasa bahwa saya memang beda.

Saya tertarik pada Islam sekitar tahun 1997. Saat itu saya bertemu seseorang yang mengubah imej saya tentang Islam dan pengikutnya. Bahwa tidak semua orang Islam itu manusia rendahan dan bodoh yang Tuhannya tuli karena butuh Adzan yang teriak-teriak untuk bisa mendengar. Bukan secara kebetulan saya bertemu dengannya. Ia menjelaskan Islam dengan alasan yang lebih masuk akal dari seorang pendeta yang tidak bisa menjelaskan masalah Trinitas hal paling mendasar dan utama dalam Kristen.

Dia menjelaskan bahwa kita sekarang hidup di era Muhammad, yang mana era Yesus (era Isa dalam Islam-red) sudah selesai dan diperbarui agar bisa relevan sepanjang masa hingga sekarang ini. Ia mengatakan bahwa akan sangat lucu karena kita tidak akan diterima dalam segala hal jika hidup dalam era yang salah. Perkataannya itu membuatku berpikir dan merenung setelah ia pula membuat saya tertegun dengan ajakan untuk menikahinya.

Bahkan Natal tahun 1998 saya sudah tidak lagi fokus dengan agama Kristen saya. Benak selalu menjerit,

“Tuhan…, dimana engkau? Kemana ketentraman saya sekarang ini? Kenapa saya jadi bimbang?”

Bahkan ketika saya mendapat insiden kecil saat mobil yang saya kendarai tidak beres, saya sempat berpikir,

“Kalau saya tadi mati, saya akan pergi kemana? Saya sudah bukan lagi Kristen karena tidak pernah ke Gereja, tidak baca doa, tidak pula baca Injil. Di Islam? Padahal saya belum Islam. Saya belum percaya dengan Islam. Saya mati akan kemana?” Saat itu pula, Adzan maghrib terdengar mengiringi pertanyaan dalam hati kecil.

Saya ingat, saat itu bulan Januari, saya berdoa dengan sungguh-sungguh. Mohon petunjuk agar mampu menyingkap kebenaran dengan doa dan kesungguhan. Kemudian, di malam ketiga saya melihat sosok wicaksana duduk dengan baju putih bersih di depan saya.

Bayangan ini terlihat beberapa kali hingga saya mengkonsultasikan kepada seorang kawan HMI tentang hal ini. Awalnya dia tidak percaya dan sempat curiga jangan-jangan ini sekedar permainan. Tapi ketika melihat kesungguhan diri saya, dia malah menganjurkan saya ke Masjid Nur Hidayah untuk menceritakan lagi hidayah yang saya dapat ke seorang ustadzah. Saya masuk Islam di Februari, dan Juni 1999 adalah bulan dimana saya menikah dengan pria yang mengenalkan saya dengan Islam.

Beberapa tahun berselang, suami saya mendadak sakit dan akhirnya pergi menemui Allah SWT, tepatnya tanggal 18 Agustus 2003. Ketika itu, saya sangat pilu, sedih dan sendirian dalam menghadapi itu semua. Sejak perceraian dengan suami saya yang pertama, anak saya ikut dengan orang tua saya di Lombok. Saya ingin agar dia balik ke Solo dan hidup bersama saya dalam Islam. Tapi yang saya dapat hanyalah, “Kalau kamu tidak mau balik ke Kristen, maka segala yang telah saya berikan padamu adalah hutang, dan kamu harus mengembalikannya segera!” Anak saya disandera, dan saya dibebani dengan hutang yang seharusnya tidak saya bayar.

Alhamdulillah, saya bisa membayar sejumlah uang yang diminta orang tua saya, berkat bantuan seorang Ustadz - dosen perguruan tinggi Islam ternama di Solo dan beberapa rekan yang tergabung dalam Forum Arimatea. Tapi, anak saya tidak dikembalikan kepada saya.

Anak saya malah datang lewat telepon, di suatu malam bulan Ramadhan dan bertanya, “Mama berat ke Islam atau berat anak?” Saya terperanjat kaget. Saya katakan kalau saya memilih Islam. Dan ia menjawabnya lagi dengan jawaban yang menyayat, “Ohh, jadi Mama itu orang yang tega terhadap anaknya, dan memilih Islam daripada anak.” Setelah mengulangi pertanyaan yang sama dan mendapat jawaban yang sama pula dari diri saya, maka ia memutuskan hubungan anak dan ibu diantara kami berdua. Telepon ditutup dengan kata-kata terakhirnya, “Semoga Ibu Dewi (bukan panggilan “Mama” yang selama ini ia memanggil ke saya) bahagia dengan agamanya yang baru itu!”

Malam itu saya menangis. Kesedihan bercampur dengan rasa lega dan gelo. Kenapa anak semata wayang yang tadinya ingin saya kembalikan ke Islam, kini lepas dari tangan saya. Saya malam itu hanya bisa berkata, “Jangankan lepas dari kamu, Nak. Kehilangan nyawa pun mama siap. Kamu, harta benda, buat mama itu tidak ada apa-apanya.” Saya masuk Islam karena saya melihat kebenaran di dalamnya.

Ibu Dewi mengatakan bahwa keimanan itu seperti emas yang membutuhkan proses dan ujian yang akan ditempa sebelum menjadi perhiasan berharga. Semoga kita semua bisa mengambil hikmah dari perjalanan rohani Ibu Dewi dan perjuangannya menegakkan Islam yang mengingatkan kita akan perjuangan orang-orang terdahulu. [Na/fosmil ]

ada satu ceramah menarik yang saya dengar kemarin:
kenapa Bencana biasa terjadi setelah perayaan natal/christmas celebration? contohnya tsunami di aceh,indonesia dan bencana banjir/flood dan tanah longsor di banyak tempat di indonesia karena apa karena Allah murka termasuk alam: gunung-gunung dan bumi juga ikut murka melihat orang kafir menuduh Allah SWT punya anak dan malangnya orang islam yang awam juga ikut-ikut mengucap selamat natal pada orang-orang Kristian…
sehingga Allah lebih murka..
ada ayat di surat maryam ayat 88-92[88] Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak”.

[89] Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar,
[90] hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh,

[91] karena mereka mendakwa Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak.

[92] Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak.
Sumbernya: SEtelah perayaan Natal itu…

Ini dia contoh orang yang ga sabar dengan kebersamaan hidup antar umat beragama…

Biarpun kita bertetangga dengan orang non muslim tetep prinsip akidah dan ibadah harus dijaga. ga boleh ajur ajer seperti roti yang mau-maunya hanyut dengan kotoran manusia saat banjir datang…

tanya anak TPA apa arti “Lakum dinukum waliyaddin”( bagimu agamamu, bagiku agamaku)…

ini dia contoh ga bener:

Doa Bersama Umat Beragama Se- Salatiga

SALATIGA - Sebanyak 400 umat beragama se-Kota Salatiga mengadakan doa bersama menyikapi berbagai bencana di Tanah Air, Minggu (1/5). Umat beragama tersebut, yakni Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha. Acara yang dihadiri para tokoh agama, Wali Kota H Totok Mintarto, dan Muspida itu berlangsung di rumah dinas Jalan Diponegoro.

Pada acara yang berlangsung mulai pukul 10.00 tersebut, tiap-tiap tokoh agama bersama masing-masing pengikutnya yang hadir diberi kesempatan untuk berdoa sekitar 10 menit. Umat Hindu misalnya, melakukan ritual doa dengan caranya lalu dilanjutkan dengan pemberian air suci kepada umat untuk membasahi wajah dan kepala.

Sementara itu, umat Buddha berdoa di depan patung Sang Buddha. Layaknya berdoa di vihara, mereka terlihat begitu khusyuk sambil mengucapkan doa-doa. Dalam doanya, umat meminta agar bencana nasional yang datang bertubi-tubi tersebut tidak terjadi lagi dan para korban bencana agar diberi ketabahan.

Saat memberikan sambutan, Totok Mintarto mengemukakan, bencana yang terjadi itu jangan dikait-kaitkan dengan sesuatu yang bersifat mistis. Justru, seharusnya bencana ini menjadi bahan renungan bagi umat manusia untuk bertobat dan meminta ampunan kepada Tuhan.

“Kami juga mendoakan agar korban bencana di Aceh, Sumut, Nias, Papua, NTT, dan lain-lain agar tabah menerima cobaan. Di balik musibah ini, Tuhan pasti akan memberikan kebaikan sehingga kita harus bersabar,” ungkapnya.

Hal yang sama juga disampaikan tokoh agama Islam H Tamam Qaulany, yang menekankan, bencana besar yang terjadi akhir-akhir ini merupakan murka Allah SWT terhadap ulah umatnya. Agar terhindar dari bencana, umat diminta bertobat dan menjauhi perbuatan-perbuatan nista.

“Bertobatlah karena bencana yang terjadi merupakan murka Allah akibat perbuatan manusia,” ujarnya.

Doa bersama yang dilangsungkan berbarengan dengan peringatan HUT Ke-42 Bank BPD Jateng tersebut dilakukan pula penyerahan tali asih kepada 15 penjaga tempat ibadah di Kota Salatiga. (H2-73dj)

doa bersama macam ini sama aja memberi pengakuan bahwa agama lain adalah benar padahal:
QS ali imron ayat 19

[19] Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barang siapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya. 3:85

[85] Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.
Sumbere: Ayat-ayat untuk warga salatiga

SALATIGA (SINDO) – Puluhan ormas Kota Salatiga mendesak Wali Kota John M Manoppo menyerahkan 50 hektare tanah PT Rumekso Mekaring Sabda (RMS) untuk umat Islam.

Desakan beberapa ormas tersebut diikuti ribuan warga yang ikut menggelar aksi di depan rumah dinas. Aksi ini sempat melumpuhkan Jalan Diponegoro karena jumlah warga berada di depan rumah dinas mencapai 5.000 orang. Kedatangan mereka untuk mendesak agar wali kota menyerahkan separuh dari tanah hak guna usaha (HGU) PT Rumekso Mekaring Sabda (RMS) seluas 90 hektare di Kec Argomulyo itu kepada umat Islam.Wali Kota diberi tenggat waktu sepekan untuk segera memberikan keputusan atas tuntutan mereka terkait keikutsertaan mengelola 50 hektare tanah eks HGU PT RMS tersebut.

Sejak Desember 2007, masa kelola PT RMS di tanah milik negara itu sudah habis. Ribuan warga yang datang kemarin tidak semua bisa masuk ke rumah dinas.Petugas hanya membolehkan tokohtokoh agama dan perwakilan peserta masuk. Aksi yang dikoordinasi oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Salatiga itu juga diikuti berbagai elemen masyarakat,seperti Jaringan Remaja Masjid Indonesia (JRMI) Kota Salatiga, HMI, KAMMI, PMII, Pemuda Ansor, Pemuda Muhammadiyah, serta Pemuda Umat Islam Salatiga (Pemuda UIS).

Sebelum berjalan menuju rumah dinas, ribuan peserta aksi terlebih dahulu menggelar pengajian di Masjid Al- Atiq Kauman Jalan KH Wahid Hasyim. Dalam tuntutannya,MUI Kota Salatiga meminta kepada wali kota supaya tidak memicu konflik dan sentimen keagamaan di kalangan masyarakat dengan bersikap ambigu terhadap keputusankeputusan yang telah dikeluarkan.

”Kami juga mendesak wali kota tidak mengeluarkan statemen-statemen yang menyakiti hati sebagian warga Salatiga serta meminta maaf secara terbuka kepada masyarakat atas pernyataan- pernyataan yang mendiskreditkan umat,” ucap salah satu pengurus MUI Salatiga, Iskandar dalam orasinya. Tokoh masyarakat Kota Salatiga, KH Fathoni, juga menyayangkan sikap wali kota. ”Kalau memang diperlukan, kami meminta kepada anggota Dewan untuk menggunakan hak angket guna ikut menyelesaikan permasalahan yang terjadi di tanah eks HGU PT RMS,” kata Fathoni yang kemarin datang dengan kondisi tubuh menggunakan bantuan selang oksigen.

Sementara mantan Ketua MUI Salatiga KH Tamam Qaolani menilai yang perlu meminta maaf kepada umat Islam tidak hanya wali kota, namun juga anggota legislatif. ”Anggota Dewan dipilih warga Salatiga yang mayoritas adalah umat Islam.Tapi, mengapa mereka (dewan) diam saja dan tidak membela kepentingan umat muslim,” tegasnya. Menanggapi tuntutan tersebut, Wali Kota John Manuel Manoppo belum bersedia memberikan komentar banyak.

Dia menyatakan bakal mengupayakan untuk merealisasikan tuntutan tersebut. ”Kita baru menampung aspirasi. Kita akan upayakan untuk memenuhinya,”ujar dia. Dia juga menyatakan permintaan maaf apabila ada kebijakan yang dikeluarkan ternyata menyakiti hati umat Islam. Dia menegaskan tidak ada sedikitpun niatan untuk menyakiti atau mendeskriditkan kelompok-kelompok tertentu. (sundoyo hardi)

Sumbere;
Koransindo.com

Dukungan bagi terwujudnya Islamic center di Kota Salatiga kembali

mengemuka sebagai tanggapan terhadap pernyataan Walikota John Manuel

Manoppo SH yang dianggap telah memutarbalikkan kronologis upaya umat

Islam mewujudkan pusat kegiatan keagamaan mereka. Sementara itu, dari

Setda Pemkot Salatiga terungkap agenda pertemuan Walikota dan Umat

Islam Salatiga (UIS), Rabu (6/2) ini.”Setahu saya, agenda audiensi Walikota dengan UIS tidak berubah,

dijadwalkan Rabu besok,” ungkap Kepala Kantor Informasi dan Komunikasi

(Inkom) Kota Salatiga Drs Petrus Resi MSi di kantornya, kompleks Setda

Pemkot Salatiga, Selasa (5/2) siang kemarin.

Seperti diberitakan SOLOPOS (24/1), UIS dua pekan silam, mengajukan

permintaan melakukan audiensi dengan Walikota terkait perkembangan

kasus tanah negara di kawasan Salib Putih tersebut. UIS merupakan

kelompok muda yang concern mendukung Yayasan Universitas Islam

Salatiga (YUIS) mengupayakan andil umat Islam dalam pengelolaan tanah

negara tersebut.

“Sejauh ini, kami belum mendengar kabar akan diterima audiensi

Walikota, Rabu besok. Memang, kami sebelumnya sempat dihubungi MUI

bahwa Walikota mengagendakan audiensi, Rabu (30/1) pekan lalu. Tetapi

belakangan dibatalkan dengan alasan Walikota mendadak dipanggil ke

Jakarta untuk mengikuti pertemuan pemerintah daerah se-indonesia,”

ungkap Sekretaris UIS Drs Muchtar Arifin.

Bagi UIS, tertunda-tundanya penjadwalan audiensi itu bukanlah halangan

bagi upaya mereka turut memperjuangkan andil umat Islam dalam

pengelolaan tanah negara di kawasan Salib Putih itu. “Dengan tidak

jelasnya komitmen Muspida Kota Salatiga mendukung upaya umat Islam

itu, semakin kuat alasan kami untuk menggelar aksi massa untuk

menunjukkan tekad umat Islam Salatiga,” tukasnya.

Dari sejumlah kalangan elemen umat Islam Kota Salatiga, terungkap

bahwa UIS dalam waktu yang bersamaan dengan menunggu jadwal audiensi

dengan Walikota itu, juga tengah menyiapkan suatu pertemuan untuk

membicarakan grand scenario umat Islam Salatiga. Tatkala agenda

internal itu dikonfirmasikan kepada Arifin, tak diperoleh jawaban

tegas.

Namun sejumlah sumber menyebutkan, pertemuan yang akan menghadirkan

seluruh elemen muda Islam Salatiga dengan dampingan dari sejumlah

tokoh masyarakat dan ulama terkemuka itu dimaksudkan untuk menyusun

rencana aksi masa sebagai wujud dukungan umat Islam terhadap upaya

mendapat andil pengelolaan tanah negara di kawasan Salib Putih. |

espos sumber:solopos.co.id

Ketika walikota Salatiga yang Muslim meninggal, maka wakilnya yang

Kristen naik, dan ada upaya lagi agar kaum Nasrani bisa menguasai

daerah Salib Putih. Tetapi upaya ini dicium oleh kaum Muslim sehingga

terjadi peristiwa - peristiwa yang diberitakan di email ini.

Taken from:

http://www.mail-archive.com/

Next Page »